Anemia atau Kurang Darah

Menurut bahasa Yunani, anemia adalah tanpa darah. Anemia merupakan suatu kondisi saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah atau hemoglobin yang bertugas sebagai media yang membawa oksigen dari paru-paru dan menghantarkan ke seluruh bagian jaringan tubuh.

Gambar skema tubuh penderita anemia dan sel darah merah

Anemia atau yang lebih dikenal di masyarakaat sebagai berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah sel hemoglobin dalam sel darah merah yang mengakibatkan darah tidak mampu membawa oksigen dalam jumlah yang cukup sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Anemia yang merupakan suatu kondisi dimana kadar hemoglobin atau berkurangnya jumlah eritrosit dalam 1 mm3 (satu milimeter kubik) darah atau kurangnya volume sel darah merahyang memadati dalam 100 ml darah (darah kurang dari ukuran normal).

Seseorang yang terkena anemia mudah mengalami penurunan kondisi secara fisik seperti cepat lelah, kurang bergairah, konsentrasi menjadi lemah, menurunnya selera makan, sering mengalami pusing dikepala, sesak nafas, mudah kesemutan, detak jantung yang berdebar-debar atau jantung dengan cepat memompa darah, dan gejala lainnya yang mudah sekali terlihat secara fisik oleh mata. Terkadang beberapa diantaranya mereka yang memiliki anemia mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Anemia memiliki kaitan erat dengan tekanan darah rendah, mengapa hal ini dapat terjadi mereka yang memiliki tekanan darah rendah cenderung sering mengalami anemia, karena tekanan darah yang rendah sekitar 90/80 mmHg membuat seseorang sering mengalami gejala anemia. Tubuh seseorang yang mengalami anemia, disebabkan karena produksi sel darah merah dengan jumlah yang minimal atau produksi sel darah merah yang rendah.

Sel darah merah memiliki fungsi yang sangat penting di dalam tubuh yakni sebagai media atau alat pengantar zat gizi terutama oksigen. Oksigen sangat dibutuhkan tubuh untuk proses fisiologis dan biokimia pada seluruh jaringan tubuh. pasokan oksigen dan sel darah merah yang kurang akan membuat seseorang mengalami anemia dan timbul gangguan fisiologis pada tubuh.

Timbulnya anemia juga dapat disebabkan oleh asuhan pola makan yang salah, tidak teratur dan tidak menyeimbangkan kecukupan sumber gizi yang dibutuhkan tubuh, terutama kurangnya sumber makanan yang mengandung zat besi. Zat besi mudah diperoleh dari macam-macam sayuran hijau, buah dan dari nasi sekitar 1 % yang mudah diserap oleh tubuh dan dari ikan sebanyak 11 %. Zat besi merupakan senyawa penting sebagai penyusun hemoglobin (sel darah merah), tubuh membutuhkan zat besi sekitar 1 – 3,2 mg per hari.

Posted in Penyakit Anemia | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penanganan Penyakit Anemia Pada Anak

anemia-gizi-anakSalah satu contoh penelitian, jika anak yang mengarah pada defisiensi zat besi maka kepandaian atau kemampuan psikomotornya sudah terpengaruh yaitu mulai berkurang. Bahkan pada anemia ringan saja kemampuan psikomotornya sudah turun sekitar 15-20 point. Padahal dengan psikomotornya yang berkembang maka anak bisa bereksplorasi dan mendapatkan stimulasi dari apa yang dilihat dan didengar. Namun ketika psikomotornya berkurang maka akan mengalami kesulitan dalam menerima stimulasi.

Sumber zat besi berasal dari golingan hem dan non heme. Golongan hem adalah daging sapi, jeroan (hati, jantung dan ginjal), domba, ikan atau seafood, ayam, yang bisa langsung diserap tubuh sekitar 23% dari bahan makanan dari dikonsumsi. Sedangkan sumber zat besi dari golongan non hem adalah sayur-sayuran berdaun hijau gelap seperti bayam, dan sawi, buah-buahan kering seperti kismis dan apricot, biji-bijian, sereal dan kacang-kacangan atau kacang polong kering. Namun yang diserap oleh tubuh hanya 3-8% dari makanan yang dikonsumsi.

Jika melihat angka yang diserap oleh tubuh dari total makanan yang dikonsumsi, maka Dr. Tinuk memberitahukan bahwa tidak bisa dan tidak dianjurkan untuk mendapatkan zat besi dari sayuran saja. Tetapi juga harus mengkonsumsi zat besi dari golongan hem. Hal in perlu diketahui agar dalam memilih bahan makanan diberikan secara lengkap dan seimbang.

Meskipun ada banyak zat besi yang bisa diperoleh baik dari golongan hem dan non heme, namun jangan lupa untuk mengetahui bahan makanan yang membantu penyerapan zat besi yaitu :

1. Golongan vitamin C (sangat membantu penyerapan zat besi non heme, contoh brokoli, tomat, jus tomat, jeruk, stroberi).

2. Golongan organik lainnya yaitu asam laktat, tartart, malat, dan asam sitrat juga membantu meningkatkan penyerapan zat besi

3. Golongan daging, ikan dan unggas : banyak mengandung zat besi heme yang sangat mudah diserap dan dapat membantu penyerapan zat besi non heme dari sumber lain.

Sedangkan makanan yang harus diwaspadai karena bisa menghambat penyerapan zat besi adalah :

1. Golongan polifenol : beberapa sayuran, buah, teh, kopi dan bumbu-bumbu seperti bawang merah, cabai, paprika dan kunyit.

2. Golongan asam fitrat : gandum utuh, nasi, kacang-kacangan dan produknya

Sedikit saja asam fitat (5-10 mg) dapat menurunkan penyerapan besi non-heme sampai 50%. Biasanya kandungan fitat ditemukan pada serat makanan seperti kacang-kacangan yang telah dimasak. Kandungan fitat yang paling tinggi terdapat pada kacang-kacangan seperti kacang merah, kacang tunggak dan kacang hijau.

3. Golongan asam oksalat : sangat mudah berikatan dengan zat besi membentuk kompleks yang sulit diserap oleh tubuh (kebalikan dari vitamin C), misalnya bayam, ubi manis, bit, wortel, kacang tanah, teh hitam, kopi, dan cokelat.

Selain anemia defisiensi besi, anak-anak juga bisa mengaami defisiensi asam folat yang bisa menyebabkan sariawan, gangguan pertumbuhan dan gangguan penutupan sel saraf dimana bisa menjadi salah satu faktor terjadinya celah langit-langit dan celah bibir pada anak-anak. Untuk itu selain membutuhkan zat besi, untuk mencegah terjadinya anemia karena defisiensi asam folat, maka anak-anak juga membutuhkan asupan yang mengandung asam folat.

Kebutuhan asam folat memiliki satuan mikro gram per hari. Namun karena kecilnya kebutuhan akan asam folat, maka tidak ada ketentuan berapa angka kebutuhan asam folat untuk anak-anak, kecuali bagi anak yang mengalami gizi buruk maka kebutuhan akan asam folatnya mencapai satu mikrogram per hari.

Makanan yang mengandung asam folat adalah asparagus, kuning telur, bayam, golongan kacang-kacangan yaitu kacang merah dan legum. Lalu buah-buahan tertentu seperti jeruk, melon, pisang, anggur dan strawberry. Sedangkan yang menghambat penyerapan asam folat adalah vitamin B12 dan obat-obatan khusus seperti obat anti kanker.

Posted in Jenis-Jenis Anemia, Penyakit Anemia | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Anemia Pada Anak

anak-anemiaMenurut dokter spesialis anak bagian nutrisi dan penyakit metabolik anak dari RS. Harapan Kita, Dr. Tinuk Agung Meilany Sp.A(K) ada banyak faktor risiko yang menyebabkan terjadinya anemia pada anak, yaitu karena adanya masalah yang timbul mulai pada masa kehamilan, bayi lahir prematur, pemberian ASI dan bukan ASI yang tiak tepat, adanya perubahan pola makan dan kebutuhan jenis makanan, faktor ekonomi dan bisa juga karena menderita sakit tertentu.

Masalah yang timbul pada masa kehamilan biasanya terjadi karena nutrisi ibu yang kurang baik dan mengalami anemia. Bayi yang lahir prematur pun berisiko untuk terjadinya anemia lebih tinggi. Hal ini dikarenakan kondisi tubuhnya yang lebih kecil dan bayi tersebut membutuhkan banyak asupan nutrisi. Begitu pula bayi yang lahir kembar, memiliki risiko anemia yang lebih tinggi karena cadangan zat besi yang ada pada ibunya harus dibagi dengan kembarannya.

Risiko anemia yang terkait dengan asupan makanan adalah mengonsumsi susu sapi sebelum usia satu tahun, mengonsumsi susu sapi lebih dari 750 ml/hari, mengonsumsi formula yang kandungan zat besinya rendah dan tidak mendapat suplementasi zat besi yang cukup setelah 6 bulan.

Pemberian ASI dan bukan ASI seperti susu formula dan produk lainnya jika tidak diberikan dengan tepat dan jumlah yang cukup juga bisa membuat bayi mengalami anemia. Untuk itu pada bayi yang mendapat ASI eksklusif dan berusia 4 bulan keatas maka bayi sudah mulai mendapatkan zat gizi tambahan serupa suplemen zat besi. Pada bayi yang sudah berusia 6 bulan ke atas mulai memerlukan tambahan makanan bayi yaitu makanan pendamping ASI untuk menghindari kecukupan gizinya dan mencegah terjadinya anemia. Namun sayangnya, jika perekonomian orangtua tidak mencukupi maka akan menimbulkan masalah dalam pemberian asupan makanan terutama yang mengandung zat besi. Selain itu pada bayi dan balita yang memiliki sakit tertentu terutama sakit kronis juga bisa menyebabkan terjadinya anemia, misalnya sakit infeksi Tuberkulosis, peradangan pada saluran kemih, cacingan dan infeksi kronis lainnya.

Tanda dan gejala awal anak yang baru mengalami anemia biasanya tidak terlihat dan tidak disadari. Namun jika sudah mengalami anemia maka wajah akan terlihat pucat dan tubuhnya mengalami anemia yang berat.

Secara klinis, anak yang mengalami anemia akan mengalami lemas, letih, lesu, tidak nafsu makan dan malas minum. Sedangkan berdasarkan kadar hemoglobin, anak yang mengalami anemia maka kadar hemoglobinnya sudah di bawah 10g/dl.

 

Posted in Jenis-Jenis Anemia, Penyakit Anemia | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Cara Mengatasi Penyakit Anemia Pada Ibu Hamil

cara-mengatasi-anemia-pada-ibu-hamilAnemia yang terjadi pada ibu hamil merupakan hal yang wajar terjadi. Namun, jika tidak ditangani anemia bisa berdampak bagi kehamilan.

Ini berhubungan dengan meningkatkanya risiko terjadinya perdarahan pasca persalinan dan gangguan terhadap keadaan umum wanita hamil tersebut, misalnya kelainan kardiovaskuler karena kompensasi terhadap anemia.

Anemia juga bisa berdampak pada janin. Ini berhubugan dengan perkembangan pertumbuhan janin, dimana bayi akan lahir dalam kondisi tidak baik, misalnya berat badan bayi lahir rendah, prematuritas aborsi, kematian janin atau hidrops. Oleh sebab itu, para ahli kesehatan dan dokter spesialis kandungan menuturkan pada wanita untuk segera memeriksakan diri ke dokter setelah diketahui adanya kehamilan. “Perlu diingat bahwa tujuan dari pemeriksaan kehamilan adalah untuk mendeteksi adanya faktor risiko yang dapat mengganggu proses kehamilan dan persalinan.

Mencegah anemia pada ibu hamil bisa dilakukan dengan mencukupi kebutuhan nutrisi yang seimbang. Meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung zat besi (misalnya : sayuran hijau, daging merah, sereal, telur dan kacang-kacangan) juga bisa dilakukan untuk menjamin kebutuhan suplai zat besi.

Pada prinsipnya, nutrisi seimbang sesuai dengan piramida makanan adalah yang terbaik untuk mencegah terjadinya anemia saat kehamilan atau dalam mempersiapkan diri untuk kehamilan. Selain itu mengkonsumsi suplemen selama kehamilan juga sangat membantu untuk mengatasi anemia defisiensi asam folat. “Asupan suplemen besi sebesar 30 mg sebagai profilaksis terhadap anemia. Bila sudah terjadi tanda-tanda anemia, maka dosis ini sebaiknya dinaikkan menjadi 60-120 mg per hari.

Namun, jika asupan suplemen tidak membantu perbaikan atau paisen tidak bisa mentoleransi suplemen (atau ditemukan anemia kronis), maka pemberian zat besi intravena atau transfusi ditegaskan Dr. Kartiwa adalah pilihan. Hanya saja, transfusi dikatakannya bisa memberikan efek samping, baik langsung (misalnya demam, reaksi alergi, rekasi hemolitik, infeksi, penumpukan zat besi).

Tranfusi diberikan apabila anemia sudah mengganggu perkembangan janin di mana keadaan ini tidak bisa lagi ditatalaksanakan dengan menjaga keseimbangan asupan nutrisi atau pemberian suplemen.

Berikut ini ada beberapa tips untuk mengatasi dan mencegah anemia pada ibu hamil :

1. Ketika mengetahui hamil, segera periksa kondisi kesehatan anda dan apabil ada faktor genetik anemia pada ibu hamil. Ibu hamil harus mengenali gejala dan jenis anemia yang dialami ibu hamil. Gejala yang umumnya biasa terjadi pada ibu hamil seperti cepat merasa lelah, tubuh sering kehilang ion hingga merasa lesu dan kurang bergairah dalam melakukan aktivitas sehari-hari, mudah mengantuk, mata berkunag-kunang, kepala pusing dan mual.

2. Lakukan pemeriksaan darah dan menghitung kadar hemoglobin pada dokter kandungan. Untuk mengetahui apabila ada sel darah merah yang rendah. Jika di dapat hemoglobin rendah dan kadar tekanan darah normal menurun bisa ditandai anda mengalami anemia.

3. Konsumsi makan-makanan yang mengandung gizi dan nutrisi yang seimbang yang tidak hanya baik kondisi ibu hamil itu sendiri, namun dapat melindungi janin atau bayi kecacatan fisik atau lahir prematur.

4. Konsumsi makan dan buah yang mampu meningkatkan penyerapan zat besi dengan banyak konsumsi vitamin C seimbang yang mudah didapat dari buah jeruk, strawberry, brokoli, pepaya dan buah sumber vitamin C lainnya.

5. Kurangi konsumsi teh atau minuman yang mengandung kafein. Beberapa pendapat, mengatakan bila wanita hamil seharusnya mampu membatasi atau disiplin dalam konsumsi kafein yang terdapat dalam teh maupun kopi. Namun sedikit sekali wanita yang menyukai kopi. Selama masa kehamilan berlangsung umumnya dokter akan memberikan suplemen penambah darah agar penyerapan zat besi tidak terganggu. Namun, pentingnya memberi jarak konsumsi dengan makanan yang di asup.

Posted in Jenis-Jenis Anemia, Penyakit Anemia | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Anemia Pada Ibu Hamil

anemia-pada-ibu-hamilSatu lagi golongan yang rentan anemia yaitu ibu hamil. Jika diabaikan anemia bisa mengganggu kehamilan dan janinnya, seperti diuraikan oleh Dr. Kartiwa hadi Nuryanto, Sp.OG dari Departemen Obstetri Ginekologi FKUI-RSCM, ibu hamil memang mudah sekali mengalami anemia. Meski sebagian besar anemia pada ibu hamil bukanlah suatu kelainan, namun apabila ibu hamil mengalami anemia maka harus dilakukan penanganan yang tepat. Sebab jika diabaikan akan mengganggu kehamilan dan janinnnya.

Anemia pada ibu hamil biasa terjadi. Itu karena pada ibu hamil terjadi peningkatan jumlah eritrosit dan plasma. Peningkatan ini, dikatakan dr. Kartiwa penting untuk mendukung proses perfusi uteropalsenta, serta meningkatkan margin keamanan sehubungan dengan jumlah perdarahan selama proses persalinan.

Peningkatan plasma sebanyak 3 kali peningkatan jumlah eritrosit. Keadaan ini menyebabkan penurunan perbandingan haemoglobin-hematokrit sehingga menyebabkan terjadinya anemia fisiologis dalam kehamilan. Anemia fisiologis disini adalah keadaan yang normal.

Berdasarakan definisi dari WHO,  diuraikan Dr. Kartiwa, ibu hamil dikatakan anemia jika kadar Hb kurang dari 11 gr/dl pada trisemester pertama dan ketiga. Kadar Hb kurang dari 10,5 gr/dl pada trisemester kedua atau hematokrit kurang dari 32%, dikatakannya juga masuk dalam kategori ibu hamil anemia.

Tidak perlu khawatir, ditegaskan Dr. Kartiwa, anemia pada ibu hamil wajar terjadi. Baru dikatakan tidak wajar, jika anemia pada ibu hamil disebabkan oleh produksi haemoglobin yang tidak adekuat dimana umumnya disebabkan oleh defisiensi nutrisi (misalnya anemia defisiensi besi) atau produksi rantai hemoglobin yang tidak adekuat (thalasemia).

Berdasarkan data, dikatakan Dr. Kartiwa anemia ditemukan pada 56% wanita hamil, anmeia pada trisemester pertama ditemukan pada 4% dari wanita kulit putih dan 13% pada wanita kulit hitam, sedangkan anemia pada trisemester ketiga meningkat menjadi 19% pada wanita kulit putih dan 38% pada wanita kulit hitm. “ Lebih dari 50% tergantung letak geografis dan status sosioekonomi.”

Gejala dan penyebab anemia pada ibu hamil

Diuraikan Dr. Kartiwa, secara umum banyak penyebab dari anemia pada ibu hamil. Antara lain : produksi rantai hemoglobin yang tidak adekuat  karena penyakit tertentu, seperti thalasemia atau produksi hemoglobin yang tidak adekuat karena defisiensi nutrisi, misalnya: anemia defisiensi besi, asam folat, atau vitamin B12. Berikutnya, penghancuran eritrosit yang belebihan/anemia hemolitik (misalnya sickle cell  anemia, sickle cell trait/disease), dikatakannya juga bisa menyebabkan anemia.

Selain itu, penyebab lain dari anemia pada ibu hamil, seperti  : perdarahan, spherocytosis herediter, infeksi parasit, keganasan (misalkan leukemia, limfoma), kegagalan sumsum tuang (anemia aplastik), defisiensi glucose 6-phosphate dehydrogenase (G6PD) adalah sebab-sebab yang juga turut andil menjadi sebab anemia.

Karena penyebab anemia pada ibu hamil yang berbeda-beda, anemia juga memiliki tipe yang bebeda-beda yaitu anemia defisiensi besi, anemia megaloblastik,  anemia hipoplastik dan anemia hemolitik. Untuk membedakan anemia yang terjadi pada ibu hamil  diperlukan pemeriksaan labratorium, seperti pemeriksaan jumlah eritrosit, jumlah retikulosit, elektroforesa Hb, apus darah tepi, kadar besi serum dan pemeriksaan lainnya sesuai dengan kecurigaan berdasarkan anamnesis.

Namun, meskiun penyebab anemia yang terjadi pada setiap ibu hamil itu berbeda-beda, gejala anemia secara umum sama yaitu : pucat, mudah lelah, anoreksia (tidak nafsu makan), lemas, pandangan sering berkunang-kunang, sesak nafas dan edema /bengkak pada kasus berat.

Posted in Jenis-Jenis Anemia, Penyakit Anemia | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Anemia Hemolitik

eq1nWWqAodGlucose-6-phospate dehydrogenase (G6PDH) adalah enzim dalam  eritrosit yang berfungsi mengubah glucose -6 phospate menjadi 6-phospo gluconate pada proses oksidasi-reduksi Nikotinamide Adenin Dinucleotide (NAD) menjadi  Nikotinamide Adenin Dinucleotide Phospate Hydrogenase (NADPH). Koenzim NADPH yang termasuk dipakai untuk merubah glutation oksidase (GSSG) menjadi glutation tereduksi (GSH) oleh bantuan enzim glutation reduktase (GSSGR). Pada defisiensi G6PDH, eritrosit mudah mengalami oksidase stress yang mengakibatkan terjadi presipitase rantai globin yang disebut Heinz Bodies. Kerusakan membrane eritrosit ini mengakibatkan terjadinya kerusakan eritrosit yang dikenal dengan anemia hemolitik.

Penyakit anemia hemolitik terjadi karena defisiensi G6PDH yang disebabkan oleh mutasi pada gen di kromosom X. Penyakit anemia hemolitik ini terutama di dapatkan pada pria mempunyai  satu  kromosom X dan satu kromosom Y, s edangkan pada wanita terhadap dua kromosom X. Pada wanita kelainan ini diturunkan bila kedua kromosom X mengalami mutasi. Wanita dengan 1 kromosom yang mutan tidak menimbulkan anemia hemolitik,hanya sebagai pembawa sifat.  Pasien dengan G6PDH defisiensi dapat mengoksidasi GSH menjadi GSSG yang menyebabkan terjadinya oksidasi dari d=ranta globin yang menimbulkan Heinz bodies. Oksidasi ini terjadi bila pasien dengan G6PDH defisiensi menggunakan obat atau zat kimia yang bersifat oksidator .

Anemia hemolitik dapat terjadi dari berbagai penyebab, seperti defek genetic  di sel darah merah yang mempercepat   dekstruksi sel atau perkembangan idiopatik otoimun yang mendestruksi sel. Luka bakar berat, infeksi, pajanan darah yang tidak kompatibel, atau pajanan obat atau toksin tertentu juga dapat menyebabkan anemia hemolitik. Bergantung pada penyebabnya, anemia hemolitik dapat terjadi hanya sekali atau berulang. Beberapa penyebab khusus anemia hemolitik yang akan dijelaskan lebih terinci antara lain adalah anemia sel sabit, malaria, penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, dan reaksi transfuse.

Uji-uji laboratorium awal harus mencakup pembuktian adanya serta derajat anemia hemolitik . Walaupun uji penyaring hemoglobin dilakukan sebelum konsultasi genetic, evaluasi laboratorium pada hemoglobinopati harus ditunjang oleh kecurigaan kuat adanya anemia hemolitik. Secara umum, pemeriksaan sumsum tulang tidak diperlukan. Elektroforesis hemoglobin pada selulosa asetat, atau elektroforesis gel kanji pada pH basa 8,6 merupakan uji laboratorium yang paling mudah untuk  membuktikan adanya hemoglobin abnormal. Hemoglobin yang dipisahkan dengan metode ini dapat dikuantifikasi dengan elusi (pemisahan dengan peencucian) dan analisispektrofotografik atau penapisan densitometry. Sebagian besar hemoglobin yang penting dapat dipisahkan  dengan metode ini. Sayangnya, metode ini tidak membedakan antara hemoglobin A dan F, sehingga hemoglobin  F harus diukur dengan metode lain. Hemoglobin F bersifat asam dan tahan basa, sedangkan hemoglobin A mengalami denaturasu, terutama pada pH rendah dan hal ini dijadikan prinsip pada pemeriksaan hemoglobin tahan asam untuk hemoglobin F.

Posted in Penyakit Anemia | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Gangguan Penyakit Anemia

eq1nWWqAodKadar besi di dalam tubuh manusia normal umumnya berkisar 4 gram dan dua pertiganya berada di dalam hemoglobin. Selain itu, besi juga didapatkan dalam bentuk cadangan di dalam hati, limpa. Sumsum tulang , di dalam otot sebagai mioglobin juga sebagai enzim sitokrom dan katalase dalam jaringan. Oleh karena itu, kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan penyakit anemia, lesu, kemah dan lekas lelah dan kelemahan pada otot, kekurangan besi pada anak akan mengakibatkan berkurangnya aktifitas serta daya tangkap.  Kebutuhan besi orang dewasa sekitar 20 mg/hari dan hanya 10% yang diserap oleh tubuh. Penyerapan besi ini meningkat bila pembentukan eritrosit di sumsum tulang meningkat dan akan menjadi lebih mudah diserap bila terdapat vitamin C. Namun dapat dihambat oleh asam fitat yang terdapat dalam sereal serta senyawa fosfat dan oksalat yang banyak di dapat dalam sayuran.

Besi yang diserap oleh usus akan memasuki aliran darah dan diangkut oleh apotransferin dan apoferitin. Besi yang terikat pada apotransferin disebut serum iron sedangkan besi yang terikat pada apoferitin disebut feritin. Besi dikeluarkan oleh tubuh sebagian besar melalui saluran cerna dan pada saat pelepasan epitel kulit.  Pada wanita, gangguan penyakit anemia dialami disaat besi juga dikeluarkan pada saat haid, hal inilah yang menyebabkan kebutuhan besi pada wanita jauh lebih banyak daripada pria.

Penderita gangguan status besi atau gangguan anemia umumnya  terlihat pucat. Penurunan kadar besi dalam tubuh dapat menyebabkan turunnya kadar mioglobin dalam otot, sehingga  pasien dengan gangguan status besi mudah lelah dan letih serta dapat mengalami kejang otot. Penderita juga dapat mengalami sesak  nafas karena turunnya jumlah besi dalam tubuh akan mengurangi kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen dalam darah. Keluhan pada gangguan penyakit anemia lain yang biasanya terjadi berupa kesemutan, nyeri pada lidah (glositis), luka pada sudut mulut dan kuku berbentuk seperti sendok (koilinochia).

Disebuah laboratorium klinik, status besi tubuh dapat diukur dengan memeriksakan kadar serum iron, total iron binding capacity, saturasi transferin dan pemeriksaan kadar feritin. Pada gangguan penyakit anemia pada keadaan nrmal, kadar serum iron (SI) pada pria 31-44 ug dan 25-156 ug/dL pada wanita. Pengukuan kadar besi serum digunakan untuk mengetahui gangguan penggunaan besi dan penimbunan besi, khususnya ada pasien yang sering menggunakan obat yang mengandung besi, transfuse ulang atau yang mengalami penyakit infeksi. Besi di dalam darah diangkut oleh protein yang disebut transferin. Banyaknya besi yang diangkut oleh transferin ini disebut SI, sedangkan banyaknya  besi yang masih dapat diangkut oleh transferin (seandainya transeferin dijenuhkan besi) disebut sebagai total iron binding.

Kadar besi serum sangat berfluktuasi dari waktu ke waktu antara pagi dan sore. Hal ini dapat berbeda sekitar 20% dalam hari yang sama bahkan hingga yang dapat menurunkan kadar besi serum antara lain infeksi, penyakit dengan radang menahun  juga  keganasan, sedangkan kadar SI dapat  meningkat pada hepatitis dan penyakit dengan penimbunan besi.

Seperti disebutkan diatas, transferin merupakan protein pengangkut besi yang dalam keadaan normal memiliki kadar 250-450 ug/dL dan akan jenuh dengan besi antara 20-45%, hala ini disebut sebagai saturasi transferin. Oleh karenapengukuran saturasi transferin diperlukan untuk mengetahui status besi dalam tubuh.  Saturasi transferin menurun pada kehamilan dan penyakit menahun, sertameningkat pada penyakit menahun penimbunan besi. Pemeriksaan SI dan TIBC dapat dilakukan di laboratorium dengan menggunakan prinsip ferrozine.

Posted in Penyakit Anemia | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Anemia

Anemia adalah suatu keadaan yang ditandai oleh berkurangnya kadar hemoglobin di dalam aliran darah. Kadar hemoglobin ini tergantung pada umur, seks  dan ketinggian tempat tinggal. Hemoglobin adalah pigmen darah berwarna merah yang didapatkan di dalam eritrosit dan berfungsi mengikat serat mengangkut oksigen dari paru ke jaringan dan CO2 dari jaringan ke paru. Dalam keadaan normal, eritrosit mempunyai masa 120 hari, setelah itu eritrosit akan dirusak di limpa dan digantikan dengan eritrosit baru yang dihasilkan oleh sumsum tulang. Pada keadaan tertentu umur eritrosit ini bisa memendek yaitu < 120 hari yang mengakibatkan terjadinya anemia.

Nilai batas kadar hemoglobin pada anemia dapat dilihat pada tabel 1. Umumnya pasien disebut anemia, bila keadaan hemoglobin kurang dari 12 g/dL.

penyakit-anemia

Tabel 1. Nilai normal Hb pada berbagai umur dan jenis kelamin

Kriteria Kadar Hb (g/dL)
Bayi baru lahir 16.5 ± 3.0
Bayi 3 tahun 11.5 ± 2.0
Anak usia 1 tahun 12.0 ± 1.5
Anak usia 10-12 tahun 13.0 ± 1.5
Wanita tidak hamil 14.0 ± 2.5
Pria dewasa 15.5 ± 2.5

Dikenal 2 macam anemia yaitu anemia absolute dan anemia relative. Anemia absolute terjadi karena menurunnya massa eritrosit di dalam tubuh, sedangkan anemia relatife terjadi karena peninggkatan volume plasma seperti didapatkan pada wanita hamil dan makroglobulinemia. Oleh karena itu anemia pada ibu hamil menunjukkan kadar hemoglobin yang lebih rendah dari kadar hemoglobin orang normal yaitu < 11 g/dL

Bermacam-macam penyebab anemia yaitu anemia yang disebabkan oleh gangguan produksi eritrosit atau umur eritrosit memendek atau karena pengeluaran darah berlebihan dari tubuh yang tidak dapat dikompensasi oleh produksi sel darah di sumsum tulang. Oleh karena itu setiap anemia harus diketahui penyebabnya agar dapat diobati.

Anemia dapat digolongkan berdasarkan morfologi eritrosit atau berdasarkan penyebabnya. Anemia yang berdasarkan morfologi dikenal anemia mikrositik, normostik dan makrositik. Sering anemia tidak disebabkan oleh satu macam kelainan morfologi eritrosit saja.

Dikenal pula anemia berdasarkan penyebabnya seperti :

  1. Kekurangan gizi yaitu kekurangan zat besi, asam folat, vitamin B12 dan protein
  2. Penghancuran eritrosit berlebihan (umur eritrosit memendek) yang tidak dapat dikompensasi oleh pembentukan sel darah di sumsum tulang.
  3. Anemia yang disebabkan oleh pembentukan sel darah yang berkurang seperti anemia aplastik.
  4. Perdarahan dapat menimbulkan anemia tergantung banyaknya darah yang dikeluarkan dari tubuh dan kadar hemoglobin pada saat perdarahan terjadi.

Gejala klinik pada anemia timbul akibat :

-  Hantaran oksigen ke jaringan berkurang karena menurunnya kadar hemoglobin dan volume darah

- Cepatnya penurunan kadar hemoglobin

- Timbul perubahan pada pompa jantung yang menyebabkan rasa berdebar, napas menjadi cepat akibat perubahan daya ikat oksigen terhadap hemoglobin. Anemia yang terjadi perlahan-lahan hampir tidak menunjukkan keluhan maupun perubahan fisik napalagi bila pasien dalam keadaan istirahat.

- Cepat lelah, sesak napas, pingsan, vertigo, berdebar-debar, nyeri pada betis dan sakit kepala

- Perubahan fisik yang terlihat berupa nadi cepat, tekanan darah rendah, kadang-kadang terdapat edema dan kelainan pada bunyi katup jantung

Sebagaimana diketahui di dalam aliran darah terdapat sel darah yang terdiri dari eritrosit, leukosit dan trombosit yang diproduksi oleh sumsum tulang. Eritrosit adalah sel darah yang berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru ke jaringan dan mengangkut CO2 dari jaringan keparu.

Laktosit adalah sel darah yang berfungsi secara umum untuk daya pertahanan tubuh seperti pada alergi, infeksi dan peningkatan daya tahan tubuh. Trombosit adalah sel darah yang dihasilkan oleh megakariosit di sumsum tulang yang berfungsi menghentikan perdarahan dengan menutup luka. Oleh karena itu untuk mengetahui adanya anemia, morfologi dari eritrosit dan penyebab anemia perlu dilakukan pemeriksaan hematologi yang meliputi:

  1. Kadar hemoglobin
  2. Nilai hematokrit
  3. Jumlah eritrosit
  4. Jumlah leukosit
  5. Jumlah trombosit
  6. Nilai eritrosit rerata : MCV, MCH dan MCHC

Selain itu untuk mencari penyebab anemia perlu dilakukan pemeriksaan zat besi karena penyebab anemia terbanyak adalah kelainan metabolisme besi. Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah (Serum Iron = SI), daya ikat besi total (Total Iron Binding Capacity = TIBC) dan feritin. Untuk mengetahui penyebab anemia yang ditimbulkan oleh zat nutrient lain yang perlu diperiksa adalah kadar vitamin B12, asam folat, kadar protein total dan albumin. Anemia yang diturunkan dalam satu keluarga perlu dilakukan analisa hemoglobin bila diduga terdapat kelainan tertentu bila penyebab anemia tidak dapat diketahui darah, perlu dilakukan anemia tidak dapat diketahui darah, perlu dilakukan pengambilan sumsum tulang dan menilai aktivitas sumsum tulang untuk memastikan penyebab anemia.

Untuk mengetahui penyebab anemia harus diketahui morfologi eritrosit terlebih dahulu yang diketahui dengan memeriksa nilai MCV, MCH dan MCHC. Nilai MCV dipakai untuk mengetahui ukuran eritrosit, nilai MCH untuk mengetahui banyaknya hemoglobin dalam satu eritrosit rerata, sedangkan nilai MCHC mengukur konsentrasi hemoglobin dalam satu eritrosit. Selain parameter diatas pada pemeriksaan hematologi diperlukan data jumlah retikulosit. Jumlah retikulosit akan meningkat pada anemia yang disebabkan oleh penghancuran eritrosit berlebih, perdarahan hebat dan untuk monitoring hasil pengobatan.

Bila pengobatan anemia berhasil jumlah retikulosit akan meningkat yang menandakan pembentukan sel darah di sumsum tulang cukup aktif untuk mengatasi anemia.

Posted in Jenis-Jenis Anemia, Penyakit Anemia | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Anemia Pernisiosa

Anemia pernisiosa adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 akibat kurangnya faktor intrinsik karena atrofi lambung. Manifestasi mencakup anemia makrositik dan demielinasi saraf, khususnya mengenai kolom posterior dan lateral medula spinalis.

penyakit-anemiaAnemia pernisiosa yang tidak diobati menyebabkan gangguan yang serius bahkan kematian. Prevalensi anemia pernisiosa yang tidak diobati menyebabkan gangguan yang serius bahkan kematian. Prevalensi anemia pernisiosa pada usia 40 tahun adalah 0,02 % dan antara usia 50 dan 60 tahun adalah 0,5 %.

Anemia pernisiosa mulai tampak pada masa dewasa pertengahan atau sesudahnya. Insiden paling tinggi pada orang yang berasal dari Eropa Utara. Tidak jelas terdapat pola pewarisan genetik, tetapi anggota keluarga pasien berisiko lebih besar mengalami sebagian atau seluruh kompleks penyakit ini.

Pasien anemia pernisiosa serta anggota keluarga sedarah yang normal sering memiliki autoantibodi terhadap sel parietal lambung dan faktor intrinsik (FI) serta autoantibodi tiroid.

Terapi untuk anemia pernisiosa sederhana dan efektif. Vitamin B12 diberikan melalui suntikan, melewatkan defek penyerapan sehingga hematopoiesis kembali dapat normal. Vitamin B12 yang disuntikkan memperbaiki gejala-gejala neurologik, tetapi tidak mempengaruhi asiditas lambung atau peningkatkan kerentanan (sekitar tiga kali daripada normal) terjangkit karsinoma lambung. Hipofungsi tiroid dan adrenal lebih seirng terjadi pada pasien anemia pernisiosa daripada populasi umum.

Posted in Jenis-Jenis Anemia, Penyakit Anemia | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Anemia Kronis

Penyakit anemia kronis merupakan bentuk anemia derajat ringan sampai sedang yang terjadi akibat: infeksi kronis, peradangan, trauma dan penyakit neoplastik yang telah berlangsung 1–2 bulan dan tidak disertai penyakit hati, ginjal dan endokrin. Jenis anemia ini ditandai dengan kelainan metabolisme besi, sehingga terjadi hipoferemia dan penumpukan besi di makrofag. Secara garis besar patogenesis anemia penyakit kronis dititikberatkan pada 3 abnormalitas utama: ketahanan hidup eritrosit yang memendek akibat terjadinya lisis eritrosit lebih dini, respon sumsum tulang karena respon eritropoetin yang terganggu atau menurun, dan gangguan metabolisme berupa gangguan reutilisasi besi.

eq1nWWqAod

Penyakit anemia kronis sering bersamaan dengan anemia defisiensi besi dan keduanya memberikan gambaran penurunan besi serum. Oleh karena itu penentuan parameter besi yang lain diperlukan untuk membedakannya. 5 Pemeriksaan rutin yang dilakukan untuk menentukan defisiensi besi akan menemui kesulitan bila berkaitan dengan anemia penyakit kronis. Pemeriksaan khusus seperti pengecatan sumsum tulang untuk menentukan cadangan besi dengan pewarnaan Prussian Blue bersifat invasif, oleh karena itu diperlukan metode untuk menentukan parameter besi lain yang praktis dengan nilai diagnostik yang tinggi guna membedakannya.

Pada pemeriksaan status besi pada penyakit anemia kronis didapatkan penurunan besi serum, transferin saturasi transferin, dan total protein pengikat besi, sedangkan kadar feritin dapat normal atau meningkat. Kadar reseptor transferin di anemia penyakit kronis adalah normal. Berbeda dengan defisiensi besi yang kadar total protein pengikat besi meningkat, sedangkan feritin menurun, dan kadar reseptor transferin meningkat.

Posted in Penyakit Anemia, Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik adalah suatu gangguan yang berkaitan dengan memendeknya usia sel darah merah. Biasanya terdapat kelainan intrakorpskular atau ekstrakorpuskular sehingga rentang hidup eritrosit menjadi terbatas. Luas dan keparahan anemia bergantung pafda kecepatan dekstruksi dan pengeluaran sel darah merah dan diseimbangkan oleh peningkatan kompensatorik pembentuk eritrosit di sumsum tulang.

tulang normal mampu meningkatkan aktivitas kerjanya enam sampai delapan kali lipat, sehingga anemia mungkin belum muncul sampai rentang eritrosit memendek menjadi sekitar 20 hari. Anemia hemolitik dapat diklasifikasikan menjadi gangguan yang berkaitan dengan defek intrinsik (ontra korpuskular) atau yang berkaitan dengan defek ekstrinsik (ekstrakorpuskular)
Untuk memhamai patofisiologi hemolisis akibat kelainanan membran eritrosit diperlukan pengetahuan dasar tentang struktur membran sel darah merah. Membran memiliki suatu komponen rangka yang terdiri dari suatu rantai protein yang terletak di dekat emmbran sel. Integritas struktural eritrosit bergantung pada kemampuannya menahan gaya-gaya memotong (shear foces) sewaktu melewati mikrosirkulasi. Protein rangka membran inilah yang menyebabkan eritrositdapat menahan gaya-gaya tersebut dan gangguan pada protein ini berkaitan dengan memendeknya usia eritrosit, yaitu hemolisis.

Eeritrosit harus lentur (deformable) dan memiliki rasio luas permukaan terhadap volume yang sesuai untuk menahan gaya memotong dan tekanan osmotik. Komposisi kimiawi membran adalah lapis ganda lipid yang teridir dari kolesterol dan fosfolipid, membentuk sekitar 50% dari struktur kimia yang tersusun berhadapan erat dengan protein membran. Beberapa protein membran menembus lapis-ganda lemak, sementara yanbg lain terletak dibagian internal dan bagian lain terdistribusi hanya dibagian perifer lemak membran. Protein integral menembus membran lipid. Sedangkan protein perifer terletak di aspek internal membran sel. Protein membran terdiri dari beberapa protein yang disebut spektrin, aktin, dan beberapa protein lain.

Posted in Penyakit Anemia | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment